Sanggupkah Seniman Bekerja?

Bimbingan Teknis Kewirausahaan bagi Pelaku Seni di UP PPSB Jakarta Pusat (sumber: irhas)
Melihat fenomena seniman yang kerap kali nyentrik baik dari cara berpakaian dan bertingkah laku, tak heran sering dianggap sebagai orang yang tidak punya pekerjaan. Dibantah oleh Perwira (Kompasiana diakses Februari 2019) yang mengungkap "seniman itu bukan pekerjaan." Seniman cenderung berkarya untuk dihargai dan diapresiasi. Hasil karya berupa pertunjukan, musik, tarian, dan lain sebagainya diperoleh dengan menghabiskan waktu yang dimiliki. Lalu akan muncul pertanyaan "Bagaimana seniman menjalani kehidupan?"

Selayaknya manusia pada umumnya, seniman membutuhkan banyak energi yang diperoleh dari makanan. Makanan diperoleh dengan bertransaksi menggunakan uang. Uang juga dipergunakan untuk membiayai produksi karya. Untuk dapat melanjutkan proses ini, semestinya karya juga dapat menghidupi seniman. Dengan kata lain, melalui karyanya, seniman dapat hidup.

Sejalan dengan itu wirausaha adalah tawaran yang dapat dilakukan oleh seniman. Banyak portal tuk menjual karya, sebut saja Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan lain sejenisnya. Melalui portal itu seniman dapat melakukan kegiatan kewirausahaan. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam melakukan atau menciptakan sesuatu yang baru dengan cara kreatif dan penuh inovasi yang memberikan manfaat bagi orang lain dan bernilai tambah.

Seniman dapat membuat brand yang unik dan identik dengan diri dan karyanya sendiri. Begitu pula sanggar desir ini, mencoba membuat wadah para seniman secara terpadu dan membangun channel Sanggar Desir di youtube dan berharap banyak netizen menjadi subsriber kami. Kami sadari betul bahwa berkarya membutuhkan pendanaan. Buat kami Youtube memberikan wadah untuk kami mendokumentasikan karya-karya kami. Melalui jumlah viewers, youtube akan mengapresiasi dengan menjadi mediator untuk para pengiklan. Alhasil, karya kami akan dibiayai sejalan dengan banyaknya jumlah viewers yang menonton di channel kami

Mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan seni Unit Pelayanan Pusat Pelatihan Seni Budaya (UP PPSB) Jakarta Pusat berujung pada kata tanya "Apa selanjutnya?" Sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam ditanggapi oleh UP PPSB Jakarta Pusat. Kegiatan Bimbingan Teknis Kewirausahaan merupakan kegiatan penutup menjawab pertanyaan para peserta pelatihan seni.


Sebagai anak wayang, kami diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk bekerja di sebuah perusahaan ataupun membuka usaha sendiri. Hal itu semata bahwa kami sadari bahwa 24 jam dalam sehari harus terbagi untuk kehidupan pribadi dan kehidupan berkesenian. Dapatkah kami, seniman, bekerja? Pola kerja seniman tidaklah biasa. Lebih disebabkan oleh pengayakan ide-ide kreatif tidak bisa dilakukan dengan secepat menghitung hari. Jika diamati lebih cermat, sesungguhnya seniman memiliki jam kerja yang tidak terbatas dibanding masyarakat pada umumnya. Bayangkan saja, seniman masih harus bekerja ketika orang lain sudah enak dengan mimpi-mimpinya ( tertidur pulas ). Mereka justru lebih terlihat sungguh-sungguh bekerja dibanding pegawai lain yang berangkat dan pulang pada jam tertentu. (irhas/@mr.yabui)

Comments

Popular posts from this blog

Keroncong Kemayoran-Benyamin S (Cover by Desir)

PROFIL JURI LOMBA CIPTA PUISI DAN CERPEN PELAJAR 2019

PotD, March 10, 2019 at 12:32PM